Monthly Archives: October 2012

Search Engine Sebagai Akar Kejahatan Plagiarisme

Taken From : powerlinetraining.com

Alvin Toffer [1928] menyatakan bahwa faktor dan kunci pada abad ke 21 adalah “Informasi”. Dimana kekuatan, kekayaan dan kejayaan bertumpu pada informasi. Arus teknologi berjalan dengan sangat deras disertai dengan perubahan implikasi yang sangat cepat. Hal ini sejalan dengan apa yang telah terjadi pada saat ini yaitu Google sebagai mesin pencari terbesar sedunia telah menjadi raksasa internet yang memang tak dapat dipungkiri lagi telah menguasai dunia walaupun secara eksplisit.

Sejak dibangunnya mesin pencarian Google, teknologi di dunia semakin mengalir dengan deras bak air terjun yang tiada hentinya mengalir mengisi sungai – sungai. Hal ini dapat dianalogikan bahwa Google adalah sumber informasi yang mengaliri seluruh informasi atau konten dari web yang ada di dunia. Tidak hanya itu saja Google, juga mengaliri informasi untuk seluruh dokumen yang tersebar di dunia. Banyak penelitian- penelitan yang telah sukses di dunia berakar pada sumber Google. Bahkan, banyak industri di dunia yang berpangku tangan pada Google sebagai pusat data dan informasi bagi kelangsungan industry tersebut. Maka dari itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa sumber informasi di dunia masa kini adalah Google sebagai raksasa mesin pencari.

Sebagai raksasa internet, tentu saja Google tidak pernah terlepas dari masalah baik itu berupa masalah teknis maupun non teknis. Seiring dengan perkembangan zaman, masalah yang terjadi semakin lama semakin rumit. Salah satu masalah yang kini dihadapi oleh Google adalah masalah plagiarisme. Plagiat adalah perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai (Permendiknas : 2011). Tindakan ini merupakan tindakan illegal yang pantas untuk dijerat oleh hukum karena telah melanggar undang- undang Hak Karya Cipta. Pada kasus ini, Google bukan merupakan pelaku tindak plagiat tersebut hanya saja si pelaku yang menyalahgunakan Google. Lantas yang harus disalahkan siapa ? apakah Google atau penggunanya, tentunya hal ini kembali pada kesadaran diri masing- masing, tergantung dari sudut pandang mana yang akan ditinjau.

Selain itu, media informasi sosial atau blog yang pada awalnya merupakan diary social seseorang, kini telah berubah menjadi sarang plagiat. Banyak terdapat tulisan fakta maupun opini yang merupakan hasil menjiplak dari karya orang lain. Mengapa dikatakan menjiplak ? karena  si penulis tidak mencantumkan sumber tulisannya dengan jelas.

***

Berdasarkan data terakhir tahun 2011, Media Kompasiana menyebutkan bahwa 25% seluruh isi tulisan maupun dokumen yang dimuat oleh Google merupakan hasil dari tindak plagiat. Mendengar informasi tersebut, tentunya Google tidak tinggal diam. Akhirnya, muncul isu bahwa Google akan memberikan kebijakan hukuman pada suatu website apabila website tersebut teridentifikasi telah melakukan tindak plagiarisme. Namun, pada dasarnya sebuah mesin pencari tidak perduli dengan duplicate content dan hukuman yang disebutkan juga tidak pernah ada karena dunia maya menerapkan hukum rimba yang sebenarnya.

Awal maret 2012 merupakan hari yang kelam bagi kelangsungan pendidikan di Indonesia. Di halaman awal surat kabar pikiran rakyat mencantumkan head line “Tiga Calon Guru Besar UPI Plagiator”. Sehari setelahnya, Sekjen (Sekretaris Jenderal) Transparency Internasional Indonesia yang juga alumni UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), Teten Masduki, mengatakan, “[…] Tidak boleh ada kriminalitas di Perguruan Tinggi karena ini mencoreng dunia pendidikan. Harus dicopot (pelakunya). Apalagi ini dilakukan calon guru besar” (Pikiran Rakyat, 2/3/212). Hal ini benar- benar mencoreng wajah pendidikan Indonesia apalagi tindak pelakunya berada pada tingkatan universitas yang ranahnya akan menjadi Guru Besar.

Perlu diketahui bahwa terdapat 5 jenis tindakan plagiat yaitu :

  1. Copy and paste plagiarism
  2. Word Switch Plagiarism
  3. Style Plagiarism
  4. Methapor Plagiarism dan
  5. Idea Plagiarism

Barnbaum, C. Plagiarism: A Student’s Guide to Recognizing It and Avoiding It.” ValdostaStateUniversity.http://www.valdosta.edu/~cbarnbau/personal/teaching_MISC/plagiarism.htm (Diakses 23 January 2006).

Indonesia sebagai Negara berkembang, tentunya akan mengikuti trend penggunaan mesin pencari dalam mendapatkan informasi dari media internet. Tak hanya kalangan pemerintahan, tapi juga seluruh civitas akademika baik pelajar maupun pengajar menggunakan fasilitas mesin pencari ini untuk kelangsungan kegiatan belajar –mengajar di sekolah. Para guru yang sudah melek internet, pada umumnya mencari konten pembelajaran sebagai referensi di internet kemudian menyampaikan kembali hal tersebut dikelas . Yang perlu dikhawatirkan adalah apabila para guru sebagai pengayom dan pembimbing siswa dalam belajar melakukan tindakan plagiarism dalam kegiatan mengajarnya, yaitu bahan materi ajar atau sumber referensi adalah hasil dari copy paste dan ganti label pembuat. Maksudnya adalah para guru menjiplak hasil tulisan orang lain dan menyampaikannya pada anak didik tanpa menyertakan nama penulis yang sebenarnya, bahkan mengganti label nama pembuat yang sebenarnya sehingga seolah- olah dia adalah orang yang membuat kontent tersebut.

Hal ini, tentu akan membawa dampak buruk bagi siswa itu nanti karena akan terbiasa bahkan kecanduan terhadap tindakan plagiat. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah apabila siswa itu dewasa nanti dan juga menjadi pengajar, tentu saja budaya ini akan terus turun menurun dari generasi ke generasi.

Tindakan plagiarisme ini, sungguh sangat merugikan tidak hanya bagi penulisnya namun, juga bagi orang yang melakukan tindakan tersebut. Mengapa tidak, karena orang yang melakukan tindakan plagiat tidak akan dapat mengembangkan kreatifitas diri sendiri. Namun, dia akan mengisolasi dirinya untuk meningkatkan kreatifitas pola pikir. Sehingga, pikirannya semakin mengerucut dan sempit. Akibatnya adalah penurunan tingkat produktifitas seseorang terhadap suatu karya tulisan.

Plagiarisme terjadi dikarenakan oleh kesadaran yang dimiliki oleh seseorang sudah mulai menurun akibat adanya kemudahan informasi yang disediakan oleh mesin pencari. Orang- orang sudah mulai malas untuk menulis karena bepikir bahwa sumber daya tersebut sudah tersedia di Internet tanpa harus membuatnya sendiri.

Konsep maupun paradigma copy, paste dan ganti label sudah sangat membudaya di lingkungan masyarakat Indonesia. Hal ini, telah benar- benar meracuni pola pikir masyarakat di Indonesia pada umumnya. Mengapa dikatakan membudaya ? hal ini dikarenakan banyak indikasi- indikasi menyatakan bahwa mulai dari pengajar sampai anak didik yang melakukan tindakan ini. Yang paling ironis adalah civitas akademika tingkat universitas merupakan pelaku utamanya. Sungguh sangat mengkhawatirkan apabila hal ini akan merambat pada civitas akademika tingkat pelajar SD, SMP maupun SMA. Tentunya, akan menjadi batu sandungan yang sangat besar bagi suatu bangsa untuk maju apabila bangsa itu sendiri tidak bisa saling menghargai. Guna menghindari masalah ini, pemerintah sebagai pengendali dari suatu Negara perlu mengadakan suatu mekanisme hukum yang jelas. Tentunya perlu dibarengi kerja sama bersama masyarakat.

Beberapa mekanisme hukum yang telah ditetapkan oleh pemerintah yaitu menetapkan Undang- undang ITE guna melindungi karya cipta yang telah dipublikasikan di internet dan juga Undang- undang plagiat guna melindungi karya cipta berupa tulisan. Mekanisme ini, merupakan terobosan dari pemerintah Indonesia untuk menanggulangi tindakan plagiat yang merajalela.

Selain itu, juga diperlukan kerjasama antar masyarakat untuk mensosialisikan bahwa tindakan plagiat tidak baik untuk dilakukan. Mulai dari tingkatan civitas akademika tertinggi yakni universitas sampai ke tingkatan akademika terendah. Perlunya kesadaran akan apresiasi terhadap suatu karya cipta harus ditanamkan sejak dini. Karena, masa kanak- kanak merupakan masa yang paling lunak bagi manusia untuk menerima informasi dan mengolahnya sebagai budaya.

Elemen yang terakhir adalah suatu teknologi baru yang dapat mendeteksi atau menelaah apakah suatu document terindikasi plagiat atau tidak. Teknologi ini dapat berupa suatu program yang diimplementasikan kedalam dunia web. Sehingga, setiap orang berhak untuk mendeteksi apakah dokumen tersebut adalah hasil plagiat atau bukan. Teknologi ini, tentunya tidak lepas dari campur tangan pemerintah dan kerjasama masyarakat yang berkecimpung di dunia IT untuk membangun system yang benar- benar dapat diandalkan.

***

Setelah Seluruh komponen disatukan dan diimplementasikan, mulai dari hukum atau peraturan yang terkait, kerjasama dengan masyarakat guna meningkatkan kesadaran dan teknologi yang terkait. Maka, akan terciptalah suatu system yang nantinya akan diharapkan dapat menuntaskan masalah plagiat ini baik itu secara “online” di internet maupun “offline” langsung bersentuhan dengan masyarakat.

***

Advertisements

Peran Pondok Pesantren Mahasiswa dalam Pembentukan Pribadi Mahasiswa Indonesia yang Cerdas dan Berkarakter

Mahasiswa merupakan salah satu anggota dari kaum intelektual yang mana dalam perkembangannya dituntut untuk menjadi agen perubahan baik berupa perubahan pada diri sendiri maupun perubahan untuk orang lain dan lingkungan yang tentunya perubahan tersebut menuju ke jalan yang lebih baik. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan arus perubahan budaya yang sangat cepat, banyak mahasiswa yang lupa akan kewajibannya sebagai agent of change , di sisi lain, mahasiswa telah berubah dari apa yang seharusnya dimiliki oleh dirinya dan apa yang seharusnya dilakukan oleh dirinya. Contohnya adalah mahasiswa harus mampu mengayomi masyarakat dalam rangka pemberian pengarahan dan pencerahan apabila terdapat masyarakat yang tidak mengerti mengenai apa yang sedang terjadi dengan lingkungannya atau negaranya saat ini. Namun, pada kenyataanya banyak mahasiswa tidak mampu untuk mengayomi masyarakat bahkan banyak diantaranya tidak bisa membaur menjadi satu bersama masyarakat sebagai mahluk sosial. Hal ini, dikarenakan mahasiswa tersebut tidak terbiasa membaur atau bersosial antara yang satu dengan yang lain.

Hardskill merupakan kecakapan yang dapat diperoleh mahasiswa pada saat berada di bangku kuliah. Sudah jelas hardskill merupakan tuntutan bagi mahasiswa yang mencari ilmu supaya mendapatkan ilmu sesuai dengan bidang yang diminati. Dengan adanya hardskill yang mumpuni, diharapkan mahasiswa mampu memberikan perubahan baik pada dirinya sendiri maupun orang lain dan lingkungannya. Namun, Hardskill tentunya tidaklah cukup untuk mengantarkan mahasiswa tersebut benar- benar menjadi agent of change apabila tidak ditunjang oleh softskill yang juga mumpuni dikarenakan akan terjadi kesenjangan sosial nantinya apabila mahasiswa tersebut tidak mampu bermasyarakat.

Selain permasalahan diatas, masalah yang sering menimpa mahasiswa antara lain yaitu ketidakmampuan mahasiswa dalam mempertahankan karakternya sebagai bangsa Indonesia yakni bangsa timur yang sangat lekat dengan tata krama dan unggah- ungguh yang sangat tinggi. Hal ini dikarenakan pendidikan karakter yang telah ditanamkan pada mahasiswa tersebut sejak usia dini hingga mencapai status mahasiswa sudah mulai luntur karena lingkungan yang terus menerus mengaliri budaya asing ataupun budaya- budaya yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Tidak jarang terdengar berita mengenai kekerasan maupun kenakalan yang dilakukan oleh mahasiswa seperti pergaulan bebas, aksi anarkis dan lain- lain. Tentunya, hal itu tidaklah lepas dari pengaruh lingkungan mahasiswa tersebut. Walaupun pada awalnya mahasiswa tersebut adalah mahasiswa yang baik dan teladan, namun karena buruknya lingkungan dan rapuhnya karakter yang dimiliki, maka sangatlah mudah sekali bagi budaya asing untuk merusak mahasiswa tersebut.

Maka dari itu, diperlukan suatu paradigma maupun regulasi baru guna mengembalikan citra mahasiswa yang telah di- cap buruk oleh masyarakat. Paradigma maupun regulasi ini dapat berupa aturan yang mengikat ataupun berupa system baru yang harus diterapkan kedalam kehidupan mahasiswa baik di dalam kampus maupun diluar kampus. Dengan adanya paradigma baru ini, diharapkan mahasiswa mampu mengembalikan citranya kepada masyarakat bahwa mahasiswa benar- benar merupakan agent of change.

Oleh karena itu, muncul sebuah ide untuk mendeklarasikan sebuah system baru yakni dengan cara menempatkan mahasiswa pada sebuah asrama atau pondok pesantren mahasiswa. Terkait dengan hal tersebut, tentunya diperlukan sebuah aturan – aturan yang mengikat bagi mahasiswa yang sekaligus berstatus santri . Hal ini perlu dilakukan guna menyelaraskan antara kegiatan kemahasiswaan dengan kegiatan kepesantrenan yang tidak lain tujuannya adalah untuk menciptakan mahasiswa yang memiliki kepribadian dengan karakter teguh dan kokoh namun cerdas dalam segala kondisi lingkungannya.

Google Developer Group (GDD) DevFest Surabaya

Amazing event on STIS. Google’s expert came there to share and talk all about google technology. There are some great speakers. i met with anna chernova and Mercy Niebres. Wow, really nice chance came there. I hope that will be next chance on my University next year.

Here is the complete information from suraya post online
===================================================================
SURYA Online, SURABAYA – Ratusan programer software house, kalangan profesional, praktisi teknologi informasi dan mahasiswa berkumpul di Auditorium Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS), Sabtu (29/9/2012).

Di gedung yang terletak di lantai satu STTS itu digelar Developer Festival 2012 yang disponsori perusahaan raksasa Google serta diorganisir komunitas non profit Google Developer Groups (GDG) Surabaya bekerjasama dengan STTS.

Acara ini menjadi menarik karena pembicara yang dihadirkan langsung dari Google pusat yakni Merci Niebres, anggota senior pada tim Google”s Marketing Events. Kemudian Anna Chernova, Quantitative Analyst Google serta Vivi Wei Zhang, konsultan dari kantor Metaps di Singapura. Metaps merupakan distributor aplikasi berbasis android terbesar di Jepang.

Ada juga Aaron Frost, ketua GDC Utah (Amerika) dan Shannon JJ.
Merci yang tampil sebagai keynote speaker menyampaikan kekagumannya atas antusiasme komunitas Google di Surabaya. Dia mengajak komunitas ini untuk lebih aktif memanfaatkan sarana yang ditawarkan Google.

Kekaguman serupa juga disampaikan Anna Chernova ketika mengetahui bahwa respon masyarakat Indonesia khususnya Surabaya terhadap Google Maps cukup tinggi. Hal ini berbeda dengan negara lain yang masih jarang menggunakan google Maps.
Sementara Vivi We Zhang lebih banyak menyampaikan bagaimana bisa mendatangkan uang dari aplikasi android yang dibuatnya.

Sesi ini banyak mendapat respon dari peserta yang umumnya kalangan IT. Mereka banyak mengorek tentang strategi-strategi yang harus dilakukan agar aplikasinya bisa diterima pasar.

Hasbullah, salah satu peserta mengaku sering membuat aplikasi-aplikasi seperti game-game trading, namun hingga kini dia ragu mempublishnya.
“Setelah ini saya akan coba trik-trik yang disampaikan (Vivi), semoga bisa berhasil,”kata praktisi IT yang berdomisili di Bangil.

Ketua GDC Surabaya sekaligus ketua panitia acara Esther Irawati Setiawan mengatakan, acara ini dimaksudkan untuk mmeberi peluang bagi developer untuk belajar teknologi Google dan menghasilkan aplikasi. “Di sini kita bisa sharing aplikasi-aplikasi apa saja yang sudah dihasilkan. Aplikasi bisa berupa info kemasyarakatan seperti tempat-tempat makan. Semua bisa disharing di sini,”katanya.

Di acara ini juga membuka pendaftaran keanggotaan GDC Surabaya. “Ternyata responnya cukup tinggi, yang berminat sampai 350 orang. Tapi karena keterbatasan tempat terpaksa ada 50 orang yang waiting list,”katanya.
Dwi Yanti H, Humas STTS menambahkan, DGD Developer Festival ini adalah even internasional keempat yang digelar GDC bersama STTS.
“Khusus even hari ini mendapat sponsor penuh Google setelah di tiga even sebelumnya sukses dan mendapat apresiasi yang baik dari mereka (Google),”katanya.

source : http://surabaya.tribunnews.com/m/index.php/2012/09/29/google-developer-groups-gdg-surabaya-kumpul-di-stts