Search Engine Sebagai Akar Kejahatan Plagiarisme

Taken From : powerlinetraining.com

Alvin Toffer [1928] menyatakan bahwa faktor dan kunci pada abad ke 21 adalah “Informasi”. Dimana kekuatan, kekayaan dan kejayaan bertumpu pada informasi. Arus teknologi berjalan dengan sangat deras disertai dengan perubahan implikasi yang sangat cepat. Hal ini sejalan dengan apa yang telah terjadi pada saat ini yaitu Google sebagai mesin pencari terbesar sedunia telah menjadi raksasa internet yang memang tak dapat dipungkiri lagi telah menguasai dunia walaupun secara eksplisit.

Sejak dibangunnya mesin pencarian Google, teknologi di dunia semakin mengalir dengan deras bak air terjun yang tiada hentinya mengalir mengisi sungai – sungai. Hal ini dapat dianalogikan bahwa Google adalah sumber informasi yang mengaliri seluruh informasi atau konten dari web yang ada di dunia. Tidak hanya itu saja Google, juga mengaliri informasi untuk seluruh dokumen yang tersebar di dunia. Banyak penelitian- penelitan yang telah sukses di dunia berakar pada sumber Google. Bahkan, banyak industri di dunia yang berpangku tangan pada Google sebagai pusat data dan informasi bagi kelangsungan industry tersebut. Maka dari itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa sumber informasi di dunia masa kini adalah Google sebagai raksasa mesin pencari.

Sebagai raksasa internet, tentu saja Google tidak pernah terlepas dari masalah baik itu berupa masalah teknis maupun non teknis. Seiring dengan perkembangan zaman, masalah yang terjadi semakin lama semakin rumit. Salah satu masalah yang kini dihadapi oleh Google adalah masalah plagiarisme. Plagiat adalah perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai (Permendiknas : 2011). Tindakan ini merupakan tindakan illegal yang pantas untuk dijerat oleh hukum karena telah melanggar undang- undang Hak Karya Cipta. Pada kasus ini, Google bukan merupakan pelaku tindak plagiat tersebut hanya saja si pelaku yang menyalahgunakan Google. Lantas yang harus disalahkan siapa ? apakah Google atau penggunanya, tentunya hal ini kembali pada kesadaran diri masing- masing, tergantung dari sudut pandang mana yang akan ditinjau.

Selain itu, media informasi sosial atau blog yang pada awalnya merupakan diary social seseorang, kini telah berubah menjadi sarang plagiat. Banyak terdapat tulisan fakta maupun opini yang merupakan hasil menjiplak dari karya orang lain. Mengapa dikatakan menjiplak ? karena  si penulis tidak mencantumkan sumber tulisannya dengan jelas.

***

Berdasarkan data terakhir tahun 2011, Media Kompasiana menyebutkan bahwa 25% seluruh isi tulisan maupun dokumen yang dimuat oleh Google merupakan hasil dari tindak plagiat. Mendengar informasi tersebut, tentunya Google tidak tinggal diam. Akhirnya, muncul isu bahwa Google akan memberikan kebijakan hukuman pada suatu website apabila website tersebut teridentifikasi telah melakukan tindak plagiarisme. Namun, pada dasarnya sebuah mesin pencari tidak perduli dengan duplicate content dan hukuman yang disebutkan juga tidak pernah ada karena dunia maya menerapkan hukum rimba yang sebenarnya.

Awal maret 2012 merupakan hari yang kelam bagi kelangsungan pendidikan di Indonesia. Di halaman awal surat kabar pikiran rakyat mencantumkan head line “Tiga Calon Guru Besar UPI Plagiator”. Sehari setelahnya, Sekjen (Sekretaris Jenderal) Transparency Internasional Indonesia yang juga alumni UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), Teten Masduki, mengatakan, “[…] Tidak boleh ada kriminalitas di Perguruan Tinggi karena ini mencoreng dunia pendidikan. Harus dicopot (pelakunya). Apalagi ini dilakukan calon guru besar” (Pikiran Rakyat, 2/3/212). Hal ini benar- benar mencoreng wajah pendidikan Indonesia apalagi tindak pelakunya berada pada tingkatan universitas yang ranahnya akan menjadi Guru Besar.

Perlu diketahui bahwa terdapat 5 jenis tindakan plagiat yaitu :

  1. Copy and paste plagiarism
  2. Word Switch Plagiarism
  3. Style Plagiarism
  4. Methapor Plagiarism dan
  5. Idea Plagiarism

Barnbaum, C. Plagiarism: A Student’s Guide to Recognizing It and Avoiding It.” ValdostaStateUniversity.http://www.valdosta.edu/~cbarnbau/personal/teaching_MISC/plagiarism.htm (Diakses 23 January 2006).

Indonesia sebagai Negara berkembang, tentunya akan mengikuti trend penggunaan mesin pencari dalam mendapatkan informasi dari media internet. Tak hanya kalangan pemerintahan, tapi juga seluruh civitas akademika baik pelajar maupun pengajar menggunakan fasilitas mesin pencari ini untuk kelangsungan kegiatan belajar –mengajar di sekolah. Para guru yang sudah melek internet, pada umumnya mencari konten pembelajaran sebagai referensi di internet kemudian menyampaikan kembali hal tersebut dikelas . Yang perlu dikhawatirkan adalah apabila para guru sebagai pengayom dan pembimbing siswa dalam belajar melakukan tindakan plagiarism dalam kegiatan mengajarnya, yaitu bahan materi ajar atau sumber referensi adalah hasil dari copy paste dan ganti label pembuat. Maksudnya adalah para guru menjiplak hasil tulisan orang lain dan menyampaikannya pada anak didik tanpa menyertakan nama penulis yang sebenarnya, bahkan mengganti label nama pembuat yang sebenarnya sehingga seolah- olah dia adalah orang yang membuat kontent tersebut.

Hal ini, tentu akan membawa dampak buruk bagi siswa itu nanti karena akan terbiasa bahkan kecanduan terhadap tindakan plagiat. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah apabila siswa itu dewasa nanti dan juga menjadi pengajar, tentu saja budaya ini akan terus turun menurun dari generasi ke generasi.

Tindakan plagiarisme ini, sungguh sangat merugikan tidak hanya bagi penulisnya namun, juga bagi orang yang melakukan tindakan tersebut. Mengapa tidak, karena orang yang melakukan tindakan plagiat tidak akan dapat mengembangkan kreatifitas diri sendiri. Namun, dia akan mengisolasi dirinya untuk meningkatkan kreatifitas pola pikir. Sehingga, pikirannya semakin mengerucut dan sempit. Akibatnya adalah penurunan tingkat produktifitas seseorang terhadap suatu karya tulisan.

Plagiarisme terjadi dikarenakan oleh kesadaran yang dimiliki oleh seseorang sudah mulai menurun akibat adanya kemudahan informasi yang disediakan oleh mesin pencari. Orang- orang sudah mulai malas untuk menulis karena bepikir bahwa sumber daya tersebut sudah tersedia di Internet tanpa harus membuatnya sendiri.

Konsep maupun paradigma copy, paste dan ganti label sudah sangat membudaya di lingkungan masyarakat Indonesia. Hal ini, telah benar- benar meracuni pola pikir masyarakat di Indonesia pada umumnya. Mengapa dikatakan membudaya ? hal ini dikarenakan banyak indikasi- indikasi menyatakan bahwa mulai dari pengajar sampai anak didik yang melakukan tindakan ini. Yang paling ironis adalah civitas akademika tingkat universitas merupakan pelaku utamanya. Sungguh sangat mengkhawatirkan apabila hal ini akan merambat pada civitas akademika tingkat pelajar SD, SMP maupun SMA. Tentunya, akan menjadi batu sandungan yang sangat besar bagi suatu bangsa untuk maju apabila bangsa itu sendiri tidak bisa saling menghargai. Guna menghindari masalah ini, pemerintah sebagai pengendali dari suatu Negara perlu mengadakan suatu mekanisme hukum yang jelas. Tentunya perlu dibarengi kerja sama bersama masyarakat.

Beberapa mekanisme hukum yang telah ditetapkan oleh pemerintah yaitu menetapkan Undang- undang ITE guna melindungi karya cipta yang telah dipublikasikan di internet dan juga Undang- undang plagiat guna melindungi karya cipta berupa tulisan. Mekanisme ini, merupakan terobosan dari pemerintah Indonesia untuk menanggulangi tindakan plagiat yang merajalela.

Selain itu, juga diperlukan kerjasama antar masyarakat untuk mensosialisikan bahwa tindakan plagiat tidak baik untuk dilakukan. Mulai dari tingkatan civitas akademika tertinggi yakni universitas sampai ke tingkatan akademika terendah. Perlunya kesadaran akan apresiasi terhadap suatu karya cipta harus ditanamkan sejak dini. Karena, masa kanak- kanak merupakan masa yang paling lunak bagi manusia untuk menerima informasi dan mengolahnya sebagai budaya.

Elemen yang terakhir adalah suatu teknologi baru yang dapat mendeteksi atau menelaah apakah suatu document terindikasi plagiat atau tidak. Teknologi ini dapat berupa suatu program yang diimplementasikan kedalam dunia web. Sehingga, setiap orang berhak untuk mendeteksi apakah dokumen tersebut adalah hasil plagiat atau bukan. Teknologi ini, tentunya tidak lepas dari campur tangan pemerintah dan kerjasama masyarakat yang berkecimpung di dunia IT untuk membangun system yang benar- benar dapat diandalkan.

***

Setelah Seluruh komponen disatukan dan diimplementasikan, mulai dari hukum atau peraturan yang terkait, kerjasama dengan masyarakat guna meningkatkan kesadaran dan teknologi yang terkait. Maka, akan terciptalah suatu system yang nantinya akan diharapkan dapat menuntaskan masalah plagiat ini baik itu secara “online” di internet maupun “offline” langsung bersentuhan dengan masyarakat.

***

Tagged: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: